
Alor – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menggelar kegiatan pemberdayaan ekonomi kreatif bagi masyarakat Desa Lendola, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (28 Februari–1 Maret 2026), ini berfokus pada pelatihan pengolahan dan pengemasan produk berbahan dasar kenari dan kolang-kaling bagi mama-mama Desa Lendola.
Pelatihan ini merupakan upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pengolahan produk kreatif seperti manisan kolang-kaling, sirup kolang-kaling, dodol kenari, hingga minyak kenari. Hasil pelatihan tersebut kemudian ditampilkan dalam kegiatan pameran One Village One Product (OVOP) pada Senin, 2 Maret 2026.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala DPMPTSP Provinsi NTT Drs. Alexander B. Koroh bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Alor Obeth Bolang, S.Sos., M.AP. Turut hadir mendampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Alor serta jajaran DPMPTSP Provinsi NTT, di antaranya Penanggung Jawab Unit/Fungsi Penanaman Modal David A. Mandala, S.Kep., M.Kes dan Penanggung Jawab PTSP Fransiskus K. Samon, S.Pt.
Hari Pertama: Olahan Kenari Jadi Produk Bernilai Tinggi
Pada hari pertama, kegiatan disambut antusias oleh para mama-mama Desa Lendola yang mengikuti pelatihan pengolahan kenari menjadi berbagai produk bernilai jual. Pelatihan dipandu oleh instruktur profesional bersertifikat Hemy R. DJasibani, S.TP., M.Si, dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Tribuana Alor (UNTRIB) Kalabahi.
Peserta dilatih membuat berbagai produk seperti dodol kenari, cake kenari, serta minyak kenari. Aroma kelapa dan gula merah yang dimasak bersama kenari memenuhi lokasi pelatihan, menciptakan suasana belajar yang hangat dan penuh semangat.
Dalam sesi pembuatan dodol kenari, para peserta dilatih kesabaran dan teknik mengaduk adonan hingga mencapai tekstur kalis dan berminyak sempurna. Kenari digunakan sebagai topping yang memberikan tekstur renyah sekaligus cita rasa khas yang menjadi identitas lokal Alor.
Sambil menunggu dodol matang, peserta juga mempraktikkan proses ekstraksi minyak kenari murni (VCO) serta minyak goreng tradisional yang jernih dan beraroma khas.
Pelatihan hari pertama ditutup dengan sesi pengemasan produk. Peserta diperkenalkan dengan teknik packaging yang lebih modern, seperti penggunaan standing pouch transparan untuk manisan serta botol kaca atau PET untuk sirup dan minyak. Produk juga dilengkapi label dengan desain menarik yang mencantumkan merek, tanggal kedaluwarsa, serta identitas produk “Asli Lendola, Alor”.
Hari Kedua: Inovasi Olahan Kolang-Kaling
Memasuki hari kedua, fokus pelatihan beralih pada pemanfaatan buah enau yang melimpah di wilayah Alor menjadi kolang-kaling dan berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Pelatihan dipandu oleh instruktur profesional Carolina Panduwaal.
Sebelum proses pengolahan dimulai, peserta terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai proses pengambilan dan pengolahan buah enau menjadi kolang-kaling yang disampaikan oleh Dominggus A. Dukuka.
Dalam sesi praktik, mama-mama Desa Lendola diajarkan teknik membersihkan kolang-kaling agar bebas dari lendir dan bau asam dengan memanfaatkan air cucian beras dan daun bambu. Proses selanjutnya adalah perebusan dengan pewarna alami yang berasal dari ekstrak buah dan daun.
Selain membuat manisan kolang-kaling, peserta juga dilatih melakukan diversifikasi produk dengan mengolah air rebusan kolang-kaling menjadi sirup kolang-kaling premium yang memiliki rasa khas.
Instruktur juga menekankan pentingnya standardisasi rasa, terutama dalam penggunaan takaran gula yang tepat agar produk memiliki daya simpan lebih lama tanpa menggunakan bahan pengawet kimia.
Dorong Perubahan Pola Pikir dan Peningkatan Pendapatan
Pelatihan ini tidak hanya bertujuan mengajarkan keterampilan memasak, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat dari sekadar menjual bahan mentah menjadi produsen produk olahan bermerek.
Dengan keterampilan baru tersebut, diharapkan setiap butir kenari dan setiap keping kolang-kaling yang dihasilkan dari Desa Lendola dapat memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Selain meningkatkan pendapatan keluarga, kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat serta memperkuat identitas Desa Lendola sebagai salah satu sentra industri kreatif berbasis potensi lokal di Kabupaten Alor.
Melalui program pemberdayaan ini, DPMPTSP Provinsi NTT berharap produk olahan khas Desa Lendola ke depan dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

